Kamis, 24 Oktober 2019

Epidemiologi Dntal (Gangrene Pulpa)


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Prevalensi penyakit pulpa di Indonesia masih dapat dikategorikan tinggi. Profil Data Kesehatan Indonesia tahun 2011 mencatat penyakit pulpa dan periapeks terdapat pada urutan ke 7 penyakit rawat jalan di Indonesia pada data tahun 2010. Namun, masih belum ada data lengkap
mengenai distribusi penyakit pulpa. Penyebab penyakit pulpa paling utama adalah karies yang disebabkan oleh bakteri. Karies masih merupakan penyebab utama dari kerusakan gigi. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi karies di Indonesia berkisar 90,05% menunjukkan tingginya angka penyakit tersebut. Apabila karies tidak dirawat pada email dan denitn gigi, maka bakteri dapat berlanjut ke pulpa. Namun, kelainan pulpa tidak hanya disebabkan oleh karies tetapi juga dapat disebabkan oleh trauma, panas, dan kimia.6 Trauma dapat berasal dari benturan benda keras, panas dapat berasal dari saat preparasi kavitas, dan kimia dapat berasal dari bahan material pengisi saluran akar. Untuk memudahkan pengambilan data, menurut I

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) prevalensi nasional masalah gigi dan mulut pada tahun 2007 sebesar 23,7 % dan meningkat pada tahun 2013 yaitu 25,9 %. Penyebab tingginya penyakit gigi dan mulut di Indonesia berkaitan dengan rendahnya kesadaran untuk melakukan perawatan dan mempertahankan gigi, didukung dengan rendahnya kebersihan rongga mulut yang menjadi awal penyebab penyakit gigi dan mulut (Departemen Kesehatan, 2008). Karies merupakan penyakit yang sering terjadi pada masyarakat modern, dipengaruhi oleh gaya hidup (Kidd, dkk., 1991).
Karies adalah suatu penyakit jaringan keras gigi disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang memfermentasikan karbohidrat sehingga terbentuk asam dan menurunkan pH, akibatnya terjadi demineralisasi jaringan keras gigi (Kidd dkk., 1991). Karies gigi terbentuk dari interaksi timbal balik dari empat factor yaitu permukaan gigi yang rentan (host) dan saliva, mikroorganisme tertentu (bakteri), fermentasi karbohidrat (subtrat) serta waktu (DeBiase, 1991). Menurut Sodang dan Hamada (2008), faktor sosial ekonomi, usia, jenis kelamin, pendidikan, geografis, dan perilaku terhadap kesehatan gigi dapat mempengaruhi keparahan terjadinya karies.
Karies gigi yang tidak dirawat dapat berkembang mencapai bagian pulpa mengakibatkan peradangan pada pulpa, apabila proses perdangan berlanjut tanpa perawatan dapat berkembang menjadi nekrosis pulpa. Nekrosis pulpa adalah suatu perubahan morfologis yang menunjukkan kematian sel pada jaringan pulpa (Dorland, 1998). Nekrosis atau  kematian pulpa memiliki penyebab yang bervariasi, pada umumnya disebabkan oleh keadaan pulpitis irreversibel tanpa penanganan (Soames dan Southam, 1998). Penyebab penyakit pulpa menurut Wein (1996) dan Ingle, dkk., (2010) yaitu bakteri, traumatik, iatorgenic, idiopatic, dan kimiawi.
Nekrosis pulpa jika dibiarkan tanpa perawatan akan berkembang menjadi gangren dan mengakibatkan kerusakan jaringan periapikal (Cohen dan Hargreaves, 2006). Kuman akan masuk dan mengadakan pembusukan pada pulpa yang terbuka, sehingga membentuk gangren pulpa. Infeksi ini meluas dan mengenai selaput periodontium menyebabkan periodontitis serta iritasi. Pus akan terbentuk sebagai hasil dari iritasi yang berlangsung lama tanpa perawatan dan pengobatan. Kumpulan pus yang terlokalisasi disebut dengan abses. Abses periodontal ini kemudian dapat meluas dan mencapai tulang alveolar menyebabkan abses alveolar (Cohen dan Burns, 2002).
Rencana perawatan gigi nekrosis pulpa yaitu dengan perawatan saluran akar atau pencabutan (Walton dan Torabinejad, 2003). Pencabutan gigi merupakan suatu proses pengeluaran gigi dari tulang alveolar (Pedersen, 1996). Pencabutan gigi nekrosis pulpa dilakukan apabila perawatan endodontik tidak bisa dilakukan karena saluran akar yang susah dipreparasi, terjadi kalsifikasi dan tidak dapat dilakukan perawatan sesuai dengan standar teknik endodontik, serta pasien yang tidak bersedia untuk dilakukan perawatan saluran akar sehingga harus dilakukan pencabutan (Peterson, 2003). Menurut Ngangi dkk (2012), kasus pencabutan gigi nekrosis pulpa mempunyai frekuensi paling tinggi yaitu sebesar 56,65%. Hasil penelitian Novi (2004) juga menyebutkan nekrosis pulpa merupakan penyebab pencabutan tertinggi yaitu sebesar 86,7 %.
Tingginya persentase pencabutan gigi nekrosis pulpa disebabkan oleh rendahnya kesadaran untuk merawat kesehatan gigi. Menurut penelitian Nasreen dan Haq (2011) dari 64,5% responden yang menderita karies gigi hanya 6,4% yang melakukan penumpatan gigi dan 52,7% responden melakukan pencabutan gigi. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat lebih memilih pencabutan sebagai perawatan giginya dari pada melakukan perawatatan untuk mempertahankan giginya. Keadaan ini dapat disebabkan karena kurangnya kesadaran untuk mempertahankan gigi. Gigi molar satu permanen merupakan gigi yang sering mengalami karies dan berakhir dengan pencabutan (Poha, dkk., 2013).

    B.     Rumusan Masalah
1.       Apa pengertian gangren pulpa?
2.       Bagaimana gejala klinik gangrene pulpa?
3.       Bagaimana etiologi gangren pada pulpa?
4.       Bagaimana patogenesis pada gangren pulpa?
5.       Bagaimana manifestasi klinis pada gangren pulpa?
6.       Bagaimana diagnosis pada gangren pulpa?
7.       Bagaimana penatalaksanaan pada gangren pulpa?
8.       Bagaimana pencegahan gangren pulpa?

    C.     Tujuan
1.      Agar pembaca mengetahui pengertian gangren pulpa.
2.      Agar pembaca mengetahui gejala klinik gangrene pulpa.
3.      Agar pembaca mengetahui etiologi pada gangren pulpa.
4.      Agar pembaca mengetahui patogenesis pada gangren pulpa.
5.      Agar pembaca mengetahui manifestasi klinis pada gangren pulpa.
6.      Agar pembaca mengetahui diagnosis pada gangren pulpa.
7.      Agar pembaca mengetahui bagaimana penatalaksanaan pada gangren pulpa.
8.      Agar pembaca mengetahui pencegahan gangren pulpa.


       A.    Pengertian Gangren Pulpa
Gangren pulpa adalah kematian jaringan pulpa sebagian atau seluruhnya, bisa disebabkan oleh 2 hal yaitu trauma (benturan) atau karies (lubang gigi) yang menjalar. Gigi terdiri dari tiga lapisan, yaitu email, dentin dan pulpa. Email adalah lapisan paling luar dan paling keras. Dentin adalah lapisan setelah email, lebih lunak daripada email. Pulpa adalah lapisan paling dalam dari gigi yang mengandung serabut syaraf dan pembuluh darah. Lubang gigi di lapisan email tidak menyebabkan timbulnya rasa sakit. Seringkali karies email (karies superficialis) ini tidak disadari oleh penderitanya, terutama jika menyerang gigi bagian belakang. Akibatnya lubang gigi ini akan menjalar ke lapisan dentin. Salah satu ciri karies dentin, jika ada makanan masuk ke lubang gigi tersebut atau rangsangan panas dingin, akan terasa sakit berdenyut dan akan hilang jika makanan atau rangsang panas dingin yang ada di lubang gigi dihilangkan. Pada tahapan ini sudah disadari jika terdapat lubang pada gigi hanya karena keluhan sakit bisa dihilangkan dengan cara mengeliminasi penyebabnya maka karies dentin terkadang belum membuat penderitanya berobat ke dokter gigi. Dan akhirnya lubang gigi akan menjalar ke lapisan yang paling dalam yaitu pulpa gigi. Lubang pada pulpa gigi akan menyebabkan timbulnya rasa nyeri yang hebat dan jika berlanjut maka akan terjadi gangren pulpa. Jaringan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan yang masuk serta menjadi sarang perkembangbiakan bakteri. Gigi yang sudah gangren menunjukkan ciri-ciri fisik berwarna keabu-abuan. Dan jika dilakukan test penciuman (odor test) pada gigi tersebut, akan menimbulkan bau busuk yang khas (bau busuk gas gangren). Test penciuman dilakukan dengan jalan memasukkan kapas kecil ke dalam lubang gigi yang gangren, lalu didekatkan pada hidung.
Gangren Pulpa adalah keadaan gigi dimana jarigan pulpa sudah mati sebagai sistem pertahanan pulpa sudah tidak dapat menahan rangsangan sehingga jumlah sel
pulpa yang rusak menjadi semakin banyak dan menempati sebagian besar ruang pulpa. Sel-sel pulpa yang rusak tersebut akan mati dan menjadi antigen sel-sel sebagian besar pulpa yang masih hidup. Proses terjadinya gangrene pulpa diawali oleh proses karies. Karies dentis adalah suatu penghancuran struktur gigi (email, dentin dan cementum) oleh aktivitas sel jasad renik (mikro-organisme) dalam dental plak. Jadi proses karies hanya dapat terbentuk apabila terdapat 4 faktor yang saling tumpang tindih. Adapun faktor-faktor tersebut adalah bakteri, karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi serta waktu. Perjalanan gangrene pulpa dimulai dengan adanya karies yang mengenai email (karies superfisialis), dimana terdapat lubang dangkal, tidak lebih dari 1mm. selanjutnya proses berlanjut menjadi karies pada dentin (karies media) yang disertai dengan rasa nyeri yang spontan pada saat pulpa terangsang oleh suhu dingin atau makanan yang manis dan segera hilang jika rangsangan dihilangkan. Karies dentin kemudian berlanjut menjadi karies pada pulpa yang didiagnosa sebagai pulpitis. Pada pulpitis terdapat lubang lebih dari 1mm. pada pulpitis terjadi peradangan kamar pulpa yang berisi saraf, pembuluh darah, dan pempuluh limfe, sehingga timbul rasa nyeri yang hebat, jika proses karies berlanjut dan mencapai bagian yang lebih dalam (karies profunda). Maka akan menyebabkan terjadinya gangrene pulpa yang ditandai dengan perubahan warna gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan, dan pada lubang perforasi tersebut tercium bau busuk akibat dari proses pembusukan dari toksin kuman.

         B.     Gejala Klinik
Gejala yang didapat dari gangren pulpa bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, di mana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu- abuan. Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital di mana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada cavita tes (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.

C.       Etiologi
Etiologi dari gangren pulpa pada dasarnya dimulai oleh terjadinya karies, sedangkan karies gigi disebabkan oleh 4 faktor/komponen yang saling berinteraksi yaitu:
a)         Komponen dari gigi dan air ludah (saliva) yang meliputi : Komposisi gigi, morphologi gigi, posisi gigi, Ph Saliva, Kuantitas saliva, kekentalan saliva.
b)        Komponen mikroorganisme yang ada dalam mulut yang mampu menghasilkan asam melalui peragian yaitu ; Streptococcus, Laktobasillus, staphilococus.
c)         Komponen makanan, yang sangat berperan adalah makanan yang mengandung karbohidrat misalnya sukrosa dan glukosa yang dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam.
d)        Komponen waktu

D.      Patogenesis
Bagan Patifisiologi terjadinya gangrene pulpa :
® Bakteri + karbihidrat makanan + Kerentanan permukaan gigi + waktu
(Saling tumpang tindih)
® Karies superfisialis
® Karies Media
® Karies Profunda
® Radang pada pulpa (Pulpitis)
® Pembusukan jaringan pulpa (ditemukan gas-gas indol, skatol, putresin)
® Bau Mulut
® Keluar Gas H2S, NH3
® Gigi non vital (gangrene pulpa)
E.       Manifestasi Klinis
Gejala yang didapat dari pulpa yang gangrene bisa terjadi tanpa keluhan sakit, dalam keadaan demikian terjadi perubahan warna gigi, dimana gigi terlihat berwarna kecoklatan atau keabu-abuan Pada gangrene pulpa dapat disebut juga gigi non vital dimana pada gigi tersebut sudah tidak memberikan reaksi pada cavity test (tes dengan panas atau dingin) dan pada lubang perforasi tercium bau busuk, gigi tersebut baru akan memberikan rasa sakit apabila penderita minum atau makan benda yang panas yang menyebabkan pemuaian gas dalam rongga pulpa tersebut yang menekan ujung saraf akar gigi sebelahnya yang masih vital.
                           Data Kunjungan Pasien di Puskesmas Karuwisi 2019

Bulan
Diagnosa
GP
Persistensi
Karies
Gingivitis
Stomatitis
GR
Januari
60
17
19
12
2
20
Februari
174
16
50
8
1
15
Maret
101
12
23
15
3
11
April
86
13
13
20
1
9
Mei
80
20
25
9
0
19
Juni
95
14
23
14
1
25
Juli
94
16
31
10
1
17
Agustus
65
11
26
7
1
8
September
95
14
23
14
1
10
                            
F.        Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan objektif (extra oral dan intra oral). Berdasarkan pemeriksaan klinis, secara objektif didapatkan :
·         Karies profunda (+)
·         Pemeriksaan sonde (-)
·         Dengan menggunakan sonde mulut, lalu ditusukkan beberapa kali kedalam karies, hasilnya (-). Pasien tidak merasakan sakit
·         Pemeriksaan perkusi (-) Dengan menggunakan ujung sonde mulut yang bulat, diketuk-ketuk kedalam gigi yang sakit, hasilnya (-). pasien tidak merasakan sakit
·         Reaksi panas/dingin (-)
·         Pemeriksaan panas/dingin (-)
Rangsang dihentikan, nyeri hilang artinya pulpa sehat. Pulpa dipertahankan dengan mencabut bagian gigi yang membusuk dan menambalnya. Jika nyeri tetap, meskipun rangsang nyeri sudah dihilangkan atau jika nyeri timbul secara spontan, maka pulpa tidak dapaty dipertahankan.
a)      Pemeriksaan penciuman
Dengan menggunakan pinset, ambil kapas lalu sentuhkan pada gigi yang sakit kemudian cium kapasnya, hasilnya (+) akan tercium bau busuk dari mulut pasien
b)     Penguji Pulpa Elektrik
Alat ini digunakan untuk menunjukkan apakah pulpa masih hidup, bukan untuk menentukan apakah pulpa masih sehat, jika penderita merasakan aliran listrik pada giginya, berarti pulpa masih hidup.
c)      Pemeriksaan foto rontgen
Terlihat suatu karies yang besar dan dalam, dan terlihat juga rongga pulpa yang telah terbuka dan jaringan periodontium memperlihatkan penebalan.

G.      Penatalaksanaan
Penatalaksaan gangren pulpa di Puskesmas Karuwisi pada saat pasien pertama kali datang dilakukan anamnesa dan pemeriksaan subjektif dan objektif. Setelah dilakukan pemeriksaan, gigi yang di diagnosa gangren pulpa dilakukan open bur untuk membuka dan membersihkan kavitas. Setelah itu diberikan obat sterilisasi saluran akar yaitu tkf dan di tumpat sementara tanpa diberikan medikasi oral. Satu minggu kemudian atau kunjungan kedua, tumpatan sementara di lepas dan obat sterilisasi diganti dengan chkm. Satu minggu setelah kunjungan kedua dan pasien tidak ada keluhan tumpatan sementara masih baik, maka dilakukan pengisian saluran akar dengan menggunakan bahan calxyl dan diberi basis zink fosfat. Bahan yang lebih sering digunakan di Puskesmas Karuwisi adalah chkm dan tkf, sedangakan bahan yang paling jarang dipakai adalah cresophen. Hal ini dikarenakan harga dari bahan sterilisasi tersebut lebih murah dibandingkan cresophen. Apabila pasien, datang dengan kondisi pulpa sudah terbuka dan dalam keadaan sakit maka di beri eugenol dan ditumpat sementara serta diberikan medikasi oral. Medikasi oral yang biasanya diberikan adalah amoksisilin dan asam mefenamat. Alasan pemilihan amoksisilin adalah efek samping yang dimiliki lebih kecil dan memiliki spektrum luas. Sedangkan untuk anti nyerinya dipilih asam mefenamat karena harga lebih terjangkau dan dijual bebas.
      H.    Pencegahan
Environment
1.      Sosial-ekonomi
Anak dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah karies gigi > anak dengan sosial ekonomi tinggi.
2.      Pendidikan
Kurangnya pengetahuan tentang karies gigi
3.         Fisik (letak geografis)
Perbedaan lama dan intensitas cahaya matahari, suhu, cuaca, air, keadaan tanah dan jarak dari laut. Telah dibuktikan bahwa kandungan fluor sekitar 1 ppm air akan berpengaruh terhadap penurunan karies.
Agent
1.         Nutrisi
Mengkonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami karies gigi daripada lemak dan protein
2.         Mikrooganisme
Bakteri Streptococus mutan, Streptococus sanguis, Streptococus mins, Streptococus salivarius, Lactobacillus dan beberapa Actinomyces
 Pencegahan pendidikan
1.         Nutrisi: jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung glukosa tinggi.
2.         Mikroorganisme: teratur dalam menyikat gigi secara rutin dan memeriksakan gigi ke poli gigi
3.         Menjaga oral hygyne agar tetap bersih
4.         Melakukan penambalan pada gigi yang terkena karies
5.         Melakukan promosi kesehatan tentang gigi berlubang (karies)

Host
-          Gigi
-          Saliva
-          Masyarakat


Pencegahan fisik (letak georafis)
·      Sikat gigi secara pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur sedini mungkin (ketika gigi tumbuh)
·      Rutin ke pelayanan kesehatan (poli gigi)
·      Menjaga oral hygyne agar tetap bersih
·      Melakukan penambalan pada gigi yang terkena karies
·      Melakukan promosi kesehatan tentang gigi berlubang (karies)

PENUTUP

A       -       Kesimpulan
Gangren pulpa adalah Kematian jaringan pulpa sebagian atau seluruhnya sebagai kelanjutan proses karies atau trauma. Penyebab dari kematian jaringan pulpa dengan atau tanpa kehancuran jaringan pulpa. Gambaran Klinis diantaranya tidak ada simtom sakit dan tanda klinis yang sering ditemui adalah jaringan pulpa mati, lisis dan berbau busuk. Periodontitis merupakan komplikasi dari karies profunda non vitalis atau gangrene pulpa, dimana pada pemeriksaan klinis ditemukan gigi non vital, sondase (-), dan perkusi (+).

B      -       Saran
Demikianlah yang dapat saya paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada. Saya banyak berharap para pembaca memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini berguna, bagi saya khususnya dan juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
 DAFTAR PUSTAKA
Gangren pulpa akut.www.medicastore.com. Diakses tanggal 20 Desember 2010.
Karies gigi.http//medicascore.com. [Diakses 21 Desember 2010]
Karies Gigi. http://id.wikipedia.org/wiki/karies gigi. [Diakses 21 Desember 2010]
Tooth Eruption.http://www.adandental.com.au/tooth_eruption_dates.htm [diakses 21 Desember 2010]
Dental Topics. http://www.surfcitykidsdds.com/dental_topics.html [diakses 22 agustus 2010]
Periodontitis. http://www.indonesian.com [diakses 19 Desember 2010]
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas
Baum, Lloyd. 1997. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi / Baum Philips Lund; alih bahasa, Rasinta Tarigan; editor, Lilian Yuwono. - Ed. 3.  Jakarta: EGC.
Tarigan, Rasinta, drg. 1994. Perawatan Pulpa Gigi. Jakarta: Widya Medika
Kidd, Edwina A.M dan Bechal. 1987. Dasar-Dasar Karies, Penyakit dan Penanggulangannya. Terjemahan oleh: Narlan S dan Safrida F. 1991. Jakarta: EGC.
Grossman L, Oliet S dan Rio. 1995. Ilmu Endodontik dalam Praktek. Jakarta: EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERBAIKAN PELAYANAN BPJS

sumber gambar KOMPAS.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan kerap menuai kritikan dari berbagai pihak terkait...